Thursday, 30 July 2020

Jangan INSECURE karena JOMBLO





“Jomblo” adalah bahasa gaul dari kata “lajang”. Bagaimanapun sejarah lajang bisa berubah menjadi jomblo, aku pun tidak paham. Yang pasti, kita hidup di negara yang lucu, yang menganggap manusia jomblo ada dalam tingkatan kasta yang lebih rendah, dari manusia yang memiliki pasangan atau berpacaran. Padahal, menjadi jomblo tidak selalu menjadi hal yang menyedihkan dan mengerikan. Jomblo memang selalu identik dengan Bully-an, baik itu di bully oleh teman-teman sekolah, kantor (tempat kerja), maupun disosial media. Kasian juga sih mereka selalu mendapat perlakuan seperti itu. Padahal merekakan nggak salah apa-apa yaaa!!!

Justru sebaliknya, kebanyakan manusia jomblo adalah manusia yang sedang cukup kuat untuk berdiri sendiri. Manusia yang sedang tidak mau berurusan dengan drama berlebih. Manusia yang sedang sibuk berdikari dan fokus mengejar mimpi. Manusia yang sedang ingin mencurahkan kasih sayang pada sahabat-sahabat dan keluarganya. Manusia yang bukan terlalu jelek untuk mendapat pacar, melainkan terlalu keren untuk tergesa-gesa tenggelam dalam hubungan yang salah, yang ujungnya malah dipenuhi kebohongan dan pengkhianatan.

Bukankah punya pasangan juga tidak menjamin seseorang menjadi bahagia?

Berpasangan tapi saling tersakiti, berpasangan tapi selalu merasakan cemburu, berpasangan tapi tidak saling percaya, berpasangan merasa nyaman dan bahagia, berpasangan tapi tidak bisa berkomitmen.

Lantas apa yang kau agungkan dari sebuah kata berpasangan dan memandang rendah jomblo kalau kenyatannya kau tak lebih bahagia dari seorang yang disebut Jomblo.

Biasanya jomblo itu dihina karena dianggaptidak mendapat perhatian dari siapapun atau kekurangan perhatian dan kasih sayang. Kalau kamu bilang, kasian yaa nggak ada yang perhatiin, nggak ada yang diajak jalan, ngedate, nggak ada yang dichat dan bla bla bla...

Emangnya jomblo selama ini nggak punya orang tua, keluarga, temen dan kolega yang perhatian? Emangnya kalian yang berpasangan hanya mendapat perhatian dari seorang pacar saja? Cukup?? uang jajanmu, uang kuliahmu, fasilitas yang kamu dapatkan selama ini seperti h sama siapa, pacarmu kah? Jadi pasangan itu bukan segalanya!

Jomblo itu hanya sebuah status yang bisa dirubah kapanpun kita mau. Aku selalu percaya bahwa komitmen itu soal ketetapan dan ketepatan. Kalau belum ingin menetap dan belum menemukan yang tepat, apa harus dipaksakan? Maka dari itu, nikmatilah saat-saat sendiri. Berkomitmenlah saat sudah ada kesiapan, bukan karena alasan kesepian, atau karena kurang perhatian. Jangan karena kesepian kamu tergesa-tega mencari pasangan, tapi kesiapan untuk mempunyai pasangan itu lebih penting daripada kata kesepian. Bukankan kesepian bisa terobati dengan adanya kawan, sahabat dan keluarga yang bisa mengisi rasa kesepianmu. Bukankah masih banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat dibanding harus membandigkan status mu yang Jomblo dengan yang berstatus pacaran.

Ingat saja bahwa akan ada saatnya seseorang yang punya pacar itu putus, akan ada saatnya seseorang yang kuat menjadi rapuh, akan ada saatnya seseorang yang berpasangan jomblo, dan akan ada saatnya juga seseorang yang jomblo mempunyai pasangan.

Jadi untuk para jomblo jangan insecure, jangan minder dan jangan tergesa-gesa karena bacot netizen...


Friday, 22 May 2020

Cerita dari Kaki Gunung Merbabu



Orang-orang yang begitu ramah, budaya disini benar-benar masih terjaga dengan baik. Dari remaja, separuh baya, anak-anak terlebih orang tua, memiliki sopan santun yang sangat mengagumkan. Hal ini tak pernah Menik jumpai di Kota ia tinggal. Betapa senang dan terheran saat menik diajak Nadir dan salah seorang teman Nadir  ke kebun tembakau sore itu. Semua orang yang ia jumpai menyapa dan tersenyum ramah, bahkan ada seorang laki-laki tua yang tiba-tiba menjabat tangan ketiga remaja itu di tengah perjalanan saat mereka hendak ke kebun. Menik terharu, betapa sangat beda orang-orang di sini dengan di kota.
Sambil senyum-senyum sendiri, dibawanya kantong plastik yang berisi makanan dan minuman untuk bekal mereka di kebun nanti. Sedangkan Nadir dan Momo membawa polibag berisi sayur yang rencana akan mereka pindahkan ke kebun Momo. Menik cukup kualahan mengikuti jejak kaki Nadir dan Momo. Mereka berjalan sangat cepat bagai orang dikejar setan di siang bolong, Menik pun setengah berlari mengikuti mereka. Setelah hampir sampai di kebun yang mereka tuju, Menik memutuskan untuk membiarkan jaraknya semakin jauh dari kedua temannya itu. Selain ia tak sanggup berjalan cepat dengan menenteng kantong plastik yang cukup berat itu, Menik ingin menikmati keindahan yang ia lewati. Sesampainya di kebun, Momo bergegas mengambil daun pisang untuk wadah makanan yang Menik bawa.
Sayur, sambal tempe dan ikan goreng nampak sangat lezat, apalagi mereka memang belum makan dari pagi. Sayang, siang ini sedikit mendung, jadi beberapa gunung yang biasanya nampak kini menghilang tertutup kabut.
Sebelum menyantap makanan yang sudah tertata rapi di atas daun pisang, mereka bertiga melakukan ritual para milenial. Memberi asupan para fans dan netijen di media sosial. Mereka bertiga seolah sedang menjadi photograper yang handal dan berlomba-lomba mengambil gambar terbaik yang akan mereka unggah di sosmed. Hidup ini memang semakin rumit semenjak Smartphone mengendalikan kehidupan manusia.
Seperti sedang kerasukan setan, mereka bertiga menyantap makanan itu dan hanya tersisa duri dan daun pisang saja. Suasana yang dingin terlebih mereka belum makan dari pagi membuat mereka dengan cepat menghabiskan makanan tersebut. Ikan rawa yang nampak seperti ikan kali itu, sudah lama ingin Menik nikmati. Tapi tak pernah ia dapatkan karena cukup susah dicarinya. Sayur yang namanya sangat asing di telinga Menik memiliki rasa yang unik idan membuat menik ketagihan, serta sambal tempe yang nikmat membuat menik ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah ketika suatu saat nanti Menik sudah bisa memasak.
Betapa menyenangkan hari ini, saat apa yang diidamkan bisa didapat dalam waktu yang bersamaan. Menik pernah makan di kebun seperti ini semasa ia menduduki bangku Sekolah Dasar di kebun milik kakeknya. Semenjak itu, tak pernah ia rasakan hal serupa. Kesibukan Menik menjadi seorang wanita karir membuat menik jarang memiliki waktu untuk singgah ke Desa.
Nadir dan Momo melanjutkan menebang pohon yang kayunya akan digunakan sebagai property di Café yang sedang mereka renovasi. Sedang mereka sibuk menebang pohon, Menik menikmati sejuknya udara di sana sambil mengelilingi kebun tembakau itu.  
Diambilnya gawai dari kantung jaket parka lusuhnya, kemudian mengabadikan dengan beberapa jepretan foto, lantas mengunggah salah satu hasil jepretannya ke instagram. Dituliskannya caption singkat “sedang mereka sibuk menebang pohon, aku masih tetap sama seperti biasanya, menamam rindu semampuku dan selelahku” Dan membaca japa di dalam hati. “Tuhan, semoga dia membacanya”.
Selepas itu Menik dimanjakan oleh Nadir dengan diajaknya ke kolam renang yang berada di tengah hutan. Melewati pohon besar, tebing batu yang menjulang  tinggi disertai langit yang  mendung membuat Menik tidak sabar ingin cepat sampai. Bersama teman-teman Nadir yang ia temui tadi malam, kembali Menik dibuatnya gembira dan merasa nyaman sebagai orang baru di antara mereka.
Dengan sepatu boots maroon favoritnya yang memiliki tinggi 7cm, ia melewati jalanan yang tidak selayaknya dilewati dan sangat jarang dijamah oleh manusia pada umumnya. Dengan perasaan yang sedikit ragu dan takut, ia berhasil melewati dan menyeberangi beberapa sungai di hutan itu. Saltum alias salah kostu adalah kata yang tepat untuk Menik sore itu. Selepas itu Menik hanya menyaksikan Nadir dan teman-temannya berenang. Sementara mereka asik berenang Menik hanya menyaksikan dari gazebo yang berada persis di pinggir kolam sambil menikmati beer dan menghisap lintingan tembakau. Lalu membayangkan laki-laki itu brada di dalam kolam bersama Nadir dan teman-temannya. Laki-laki yang pernah mematahkan hatinya, laki-laki yang selalu ia tunggu, karna laki-laki itu juga teman dekat Nadir. Bayangan laki-laki itu tidak pernah absen dari kepala Menik dimanapun Menik berada. Tiba-tiba hujan turun sangat deras saat kepala sedang senang-senangnya membayangkan laki-laki itu.
-
Malam itu, Nadir membawanya ke sebuah café dekat rumahnya yang tengah direnovasi. Tetiba menik terkejut saat yang ia jumpai ternyata adalah teman-teman  Didi. Beberapa dari mereka langsung mengatakan pernah melihat Menik sebelumnya. Selepas Nadir memperkenalkan menik sebagai teman Didi. Menik masih ingat benar wajah-wajah mereka karena memang Didi pernah beberapa kali mengajak Menik bertemu dengan teman-temannya itu. Mereka menanyakan bagaimana hubungan menik dan Didi selepas Didi Mengabdikan diri pada Negeri ini di pulau seberang sana. Dengan sok tegar dan senyum yang dibuat-buat menik menjawab bahwa mereka sudah putus sebelum Didi kembali ke Pulau seberang.
Malam semakin larut, angin disana semakin menusuk hingga ke tulang sumsum. Api yang diunggunkan dan lintingan tembakau yang mereka hisap bahkan tak cukup menghangatkan tubuh masin-masing. Dalam kesibukan masing-masing, menik memutuskan untuk naik ke lantai dua di café itu. Ruangan terbuka yang kosong tanpa satupun interior seperti kursi atau meja, menik menyobek buku gambar yang ia bawa sebagai alas duduk dan mencoba menggambar sesuatu. Bulan yang sangat indah serta satu bintang yang sangat cerah berada persis diatas kepala Menik malam itu. Disertai pohon-pohn cemara membuat menik seperti berada dalam film dongeng atau sebuah lukisan yang pernah ia lihat. Keindahan sangat dekat dari sini.
Angin dengan liar menjamah tubuh menik malam itu, jaket parka usang yang  menik kenakan tak mampu melindunginya dari dingin malam itu. Mengalihkan rasa dingin dengan menggambar suasana malam itu mungkin akan membuat menik merasa lupa bahwa ia sedang sangat kedinginan dan merindukan seseorang. Ya, seseorang itu siapa lagi kalau bukan Didi, laki-laki yang menik bayangkan di kolam renang tadi.
Lagi-lagi kenangan tentang Didi menguasai Menik malam itu. Berandai-andai bahwa Didi juga berada di bawah bersama teman-teman dan bermain gitar sambil menyanyikan lagu Slank yang biasa mereka dengarkan bersama. Tapi itu hanya angan-angan Menik saja. Sepertinya menggambar pun tak bisa mengalihkan rinduya kepada sang mantan kekasih, Menik lantas mencoba menulis puisi. Saat seperti inilah ide-ide pasti akan bermunculan dengan cepat.
Baru beberapa kalimat menik menulis di buku gambar barunya,
Tiba-tiba aku ingin menulis puisi
Untukmu sang pematah hati
Di lantai dua tanpa atap ini
Kembali ku singgahi kedai kopi
yang pernah kita kunjungi

Menik dikagetkan dengan kedatangan Nadir yang membawakan 2 potongan kayu untuk dijadikan  alas duduk.
Secepat kilat ia tutup kembali buku itu, karena malu jika Nadir membaca apa yang ia tulis. Tak lama kemudian datang satu teman Nadir menghampiri mereka. Berlomba-lombalah mereka bertiga mengeluarkan gawai dan berusaha memotret bulan yang sangat menawan malam itu. Setelah nadir dan temannya meninggalkan Menik kembali sendiri, ia buka dan  meteruskan apa yang telah ia tuliskan.
Tiba-tiba aku ingin menulis puisi
Untukmu sang pematah hati
Di lantai dua tanpa atap ini
Kembali ku singgahi kedai kopi
yang pernah kita kunjungi
Aku asik duduk sendiri
Sambil mengenangmu yang telah pergi

Angin liar dengan riang menjamah
Tubuh lemah dengan hati yang patah
Aku adalah kesendirian
seseorang tanpa seseorang

Malam ini berbeda dengan yang lalu
Tak ada yang aku tunggu
Kenanganmu saja yang gemar mengganggu
Aku masih sangat akrab dengan kesendirian
Menelan kerinduan yang ku tanam dengan senang

Ditutup kembali buku itu ketika ponselnya bergetar dan dibacanya sebuah pesan dari Nadir “sini turun, bakar tembakau dulu, lanjut gambar di bawah”. Bergegas Menik merapikan semua peralatan menggambarnya dan turun menuju Nadir dan teman-temannya yang tengah asik bermain gitar dan menghangatkan diri di depan api unggun yang mereka buat sedari tadi.
Nadir dan Menik memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya dan pulang ke rumah Nadir. Menik masih tetap menggigil kedinginan karena memang disana angin terasa seperti angin yang keluar dari lemari es. Dibuatkannya Mint Tea ala Nadir. Menik yang tak begitu suka dengan teh mencoba menikmati kehangatan teh tersebut dan makanan yang Nadir bawa.
Malam itu, Nadir selalu memaksa Menik untuk meggambar, sedangkan Menik tidak terbiasa menggambar di depan orang lain kecuali teman dekatnya. Karena Menik selalu tidak percaya diri dengan semua karya-karyanya. Nadir membiarkan menik menikmati teh panas buatannya sembari sibuk memainkan gitar kesayangannya.
Menik yang berada persis di sebelah nadir sambil membungkus setengah tubuhnya dengan selimut dan menggenggam erat cangkir teh tida-tiba teringat Didi. Ini adalah kegiatan yang sering Menik dan Didi lakukan setiap malam ketika mereka masih menjadi sepasang. Didi selalu sibuk dengan Bass kesayangannya, dan Menik hanya menemani Didi sambil menikmati kopi dan rokok, tak jarang juga sambil menggambar.
Diambilah buku gambar dan cat air yang selalu ia bawa itu. Mencoba menggambar sesuatu agar Nadir tidak mengulang kata-kata yang sama dan memaksa Menik untuk menggambar. Dengan cahaya lampu berwarna biru yang sangat redup, mulailah Menik memainkan kuasnya dan melukis subuah bunga matahari yang layu. Layu seperti hati menik malam itu yang sangat merindukan Didi. Suasana malam yang sangat menawan dengan bulan yang begitu terang disertai beberapa bintang yang indah. Sayang, yang disamping menik malam itu bukanlah Didi.
-
Ruangan itu, adalah ruangan yang selalu ingin menik singgahi untuk menenangkan diri atau sekedar hibernasi. Ruangan yang selalu bisa memanjakan Menik dari setresnya pekerjaan yang ia jalani. Ruangan kecil yang rapi, bahkan sangat rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki, dengan beberapa tumpuk buku dan beberapa alat musik yang ditata tak kalah rapi. Tanaman kaktus yang sangat Menik sukai, jendela kaca di setiap sisi tembok ruangan itu, kolam ikan d bawah ruangan itu dan gunung di setiap sisi yang dapat ia lihat dari jendela kaca ruangan tersebut. Sungguh tempat yang takkan pernah membosankan. Seandainya Menik bukan salah satu kaum buruh yang harus bekerja dari pagi hingga sore dan hanya memiliki waktu akhir pekan saja untuk pergi, mungkin ia tak akan pulang buru-buru. Dua hari bukanlah waktu yang lama untuk menikmati suasana se indah itu. Menik ingin berlama-lama di sini.
-
Pagi ini saat tubuh menik menggigil kedinginan di atas lantai tiga. Menik sedang berusaha mengambil foto sunrise yang ia tidak tau dari mana arah matahari akan terbit. Tapi nampaknya pagi ini menik kurang beruntung dan tidak akan melihat sunrise karna kabut tebal menutupi seluruh pandangan Menik. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari tangga menuju kamar, dengan cepat menik melemparkan dirinya ke kasur dan bersembunyi di bawah selimut yang sedari malam tak pernah ia lepaskan. Seseorang mengetuk jendela kaca. Saat Menik membalikan badan, nampak sesosok wanita setengah baya mengenakan switer dan membawakan segelas kopi sambil tersenyum. Dibukalah pintu dan Menik melangkah untuk menghampiri wanita tersebut. Diterimanya segelas kopi lalu menik menjabat tangan wanita itu. “Kok repot-repot tante”. Wanita itu tersenyum ramah sambil menanyakan beberapa hal tentang Menik. Setelah selesai berbincang, Mama Nadir meninggalkan Menik sambil berkata “tidur lagi aja kalo dingin, ini masih terlalu pagi”.
Betapa Menik sangat iri dengan Nadir yang memiliki Mama seramah dan sebaik itu. Beberapa kali menik datang ke sini, mama Nadir selalu menyambut Menik dengan hangat. Pun dengan Papa Nadir. Menik yang tidak pernah bisa dekat dengan kedua orang tuanya sangat terharu dengan perlakuan Mama Nadir. Kembali Menik membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Kali ini, sambil duduk ia menikmati kopi buatan Mama Nadir.
Nadir sibuk mengecat bambu yang ia gunakan sebagai dinding kamar mandi yang baru ia bangun di sebelah taman. Menik duduk di rumput hijau yang begitu bersih di sebelah kolam sambil menikmati kopi dan membaca buku yang ia ambil di kamar Nadir pagi tadi. Mereka berdua asik dengan aktivitas masing-masing, Nadir yang melanjutkan menyiram bunga-bunga di taman dan Menik mengamati satu persatu koleksi kaktus Nadir yang sangat banyak. Tetiba terbayang jika Menik tinggal di tempat ini dalam waktu yang lama, bercengkrama dengan semesta yang sangat indah, dengan orang-orang yang sangat ramah di sini pasti akan sangat menyenangkan. Menik ingin menjadi petani saja agar tidak pusing memikirkan Negeri ini yang semakin Rumit. Tapi bagaimana dengan pekerjaannya di kota sana? Lamunannya dihancurkan saat tiba-tiba Nadir menyemprotkan air dari selang yang ia pegang.
Sore yang sangat mendung, dan akhirnya Menik pamit untuk pulang. Nadir sempat menahan tapi Menik harus tetap pulang. Dimintanya beberapa gambar yang dibuat semalam oleh Menik. Nadir berjanji akan meletakkan gambar itu di Cafe yang sedang ia buat. Diiberikan dua gambar yang menurutnya layak untuk dilihat orang lain.
Menik berjanji akan selalu datang di akhir pekan apabila tidak ada pekerjaan mendesak. Dengan satu pot tanaman kaktus yang diminta paksa dari Nadir, Menik meninggalkan Nadir, Mama dan Papa yang mengantarkannya sampai depan rumah.




Tuesday, 17 March 2020

Jaga Mental dengan Bijak tanggapi Covid-19




Semesta sedang tidak baik-baik saja..
Tulisan ini mencoba merangkum secara sederhana terkait kekhawatiran masyarakat mengenai virus Covid-19. Saya mencoba untuk “merefleksikan” realita yang terjadi berkaitan dengan Covid1-19 serta kondisi psikologis masyarakat.

Wabah virus Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemi global. Sebagian besar populasi diminta untuk bekerja atau beraktivitas dari rumah saja. Termasuk saya..

Namun terkadang tetap saja ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan orang ke luar rumah.

Banjir informasi mengenai wabah Covid-19 ini mau tak mau punya andil mempengaruhi kesehatan mental sebagian orang. Berita yang berjejal mengenai Covid-19 seliweran baik melalui media massa ataupun media sosial. Di satu sisi, aliran informasi tersebut penting untuk membangun kewaspadaan dan bekal diri akan kabar terkini. Namun di sisi lain, tak jarang ada yang justru merasa cemas dan takut akan kondisi ini. Seakan-akan kiamat sudah menghampiri kita semua.

Dari fenomena tersebut, kemudian muncul pertanyaan. Kenapa manusia memiliki rasa panik berlebih dalam merespon suatu persoalan, termasuk menanggapi wabah Covid-19? kepanikan yang timbul pada diri seseorang merupakan suatu bakat, sesuatu itu tergantung bakat yang dimiliki seseorang dari dalam dirinya masing-masing. Orang yang memiliki bakat bahagia, dengan kasus atau persoalan apapun dia akan bahagia. Namun orang seperti saya cenderung lebih cepat merespon panik dibanding rasa senang dalam menerima bentuk emosional yang mendadak. Perkara penyakit, saya adalah orang yang paling panik dibanding dengan teman lain.

Pandemi Global yang sempat menjadi bahan olok-olok atau candaan sekarang benar berada di sekitar saya. Panik, cemas, parno mendominasi diri ketimbang rasa tenang dan bahagia. Itu membuat saya menjadi kepikiran dan drop. Tiba-tiba saya flu dan lemas, berfikir seolah saya juga terkena virus yang mengerikan itu. Apalagi saya baru pulang dari liburan dan berinteraksi dengan banyak orang. Setelah saya check-up ke dokter, ternyata saya hanya kelelahan dan terserang flu biasa. Dianjurkan saya tidak terlalu cemas agar daya imun stabil sehingga tidak mudah terserang virus. Kecemasan yang berlebih ini saya alami justru dari berita yang sering saya baca, perkembangan korban yang setiap harinya semakin bertambah, dan beberapa isu Hoax yang beredar di ponsel saya. Peringatan dari orang tua atau orang terdekat untuk mecegah Covid-19 dengan mencuci tangan memakai sabun, ini dan itu membuat saya menjadi selalu kepikiran dan merasa terancam. Belum munculnya isu dari orang yang memanfaatkan bencana virus ini semakin memanas, serta argumen orang-orang yang hanya memperkeruh suasana juga sering saya baca di artikel. Masker yang dirasa sangat membantu dalam menangkal virus ini juga ikut-ikutan sangat susah didapat, hand sanitizer tak kalah susah susah untuk dibeli. Sehingga membuat saya drop dan panik. Dari kejadian ini membuat saya berfikir ternyata mencemaskan sesuatu secara berlebihan justru akan membuat suatu hal menjadi fatal.

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang religius. Seperti biasa, semua masalah selalu dikait-kaitkan dengan agama meskipun tak berkaitan. Tak terkecuali Covid-19, yang konon sempat dianggap sebagai "pasukan ilahi". Pendekatan agama yang cenderung naif dan dogmatis sering diterima sebagai solusi ampuh mengatasi Covid-19 dan sudah dapat ditebak hasilnya. Kemudian muncul-lah para juru bicara Tuhan yang menawarkan solusi cara Tuhan menghadapi Covid-19. Banyak doa dan japa yang mesti dihafal dan diamalkan untuk menangkal virus ini agar tidak menjadi bumerang bagi mereka yang mengaku religius tersebut. Apalagi saat dikatakan bahwa ini adalah azab orang-orang kafir, What the hell? Are you okay? Kenapa ada manusia yang mengkafirkan manusia lain padahal dirinya bukan Tuhan.

Atau ada yangmengatakan bahwa yang terjangkit adalah akibat dari ulah sendiri karena tidak bisa menjaga diri. Helooo... Ini adalah virus/penyakit. Orang mana yang mau sakit? Orang mana yang mau terinfeksi virus? Ini adalah indikasi bahwa sebagian besar masyarakat kita kurang bijak dalam bermedia sosial. Khususnya dalam menanggapi informasi-informasi yang berseliweran. Masyarakat kita dalam bermedia sosial kurang tatanan dalam berbahasa dan kurang mampu menahan emosi pribadi.Ini sesuatu yang terlalu berlebihan dan dibesar-besarkan.

Penting untuk menemukan mekanisme menghadapi ketakutan dan kecemasan. Langkah ini penting dilakukan untuk memastikan kesehatan mental dan mengelola rasa tersebut agar tak mengarah ke kepanikan.

Covid-19 merupakan jenis penyakit yang cukup diatasi dengan membatasi diri dari orang lain atau self limiting disease, hingga menjaga pola hidup sehat. Kita semua harus tetap bahagia, tetap senang dan tenang untuk tumbuhkan imun dalam tubuh. Rasa cemas yang berlebihan terkadang membuat seseorang menjadi tidak bisa berpikir jernih. Menurut rekan saya (yang selalu saya keluhkan tentang kecemasan saya) bahwa Cemas itu merupakan kekhawatiran yang muncul karena aktivitas amigdala otak (otak emosi) membajak fungsi otak depan (logika kritis). Bahwa bagian amigdala otak akan aktif apabila seseorang mendengar sebuah informasi tidak lengkap atau mungkin informasinya keliru. Aktivitas otak seperti ini terjadi secara otomatis. Oleh karena itu, untuk membuat kita menjadi tenang, kita disarankan untuk mencari informasi selengkap mungkin dari sumber yang valid. Hindari mendengar dan membaca info yang keliru. Jika informasi valid sudah diperoleh dengan lengkap maka fungsi otak depan (berpikir logis dan kritis) akan menjadi aktif. Upayakan mempunyai teman sebagai bentuk mental support pada diri sendiri.

Dokter sekaligus content creator Clarin Hayes “Jika berbicara angka, dari 110 ribu orang yang terkena virus Covid-19 di dunia, yang telah berhasil sembuh ada sebanyak 62 ribu, sedangkan angka kematian cuma 3%. Jadi buat apa kita takut? Kita harus berani dan lawan virus tersebut”. Berita terbaru yang saya dapat 79.881Pasien di 162 Negara sembuh dari Covid-19.

Dari segala macam isu dan teror yang membuat kita semua panik, hal yang dapat kita lakukan ialah melawan isu tersebut dengan pengetahuan. Karena obat dari kepanikan ialah ilmu pengetahuan. Orang yg tersesat oleh informasi yaitu korban pemikiran yang dogmatis.

So, mari sama-sama menjadi mental support bagi sesama. Mari jaga diri dan semoga kita terbebas dari Covid-19. Waspada boleh, berlebihan jangan..